Selasa, 07 Oktober 2014

Makam Penginjil NZG Pdt. KARL TRAGOT HERMAN - Amurang

 


 Makam Pdt. KARL TRAGOT HERMAN ( AMURANG )

 

Rumah Pdt K.T Herman di Amurang  30 Maret 1808 ( Tampak K.T. Herrmann baru keluar dari rumahnya. Sekarang kompleks SD GMIM / Markas Polisi Amurang)

 

Peralatan Ibadah yang perna dipakai Pdt. K.T. Herman

 

Makam Pdt. K.T Herman Bersama Istri Di Amurang

             Objek wisata sejarah ini berada di Tempat Pemakaman Umum Ranoyapo, Kelurahan Ranoyapo, Kecamatan Amurang. Pada tanggal 1 Januari 1837 NZG / Nederlandsch Zendeling Genootschap mengutus Zendeling Karl Tragot Herman di Amurang dan menyampaikan khotbah perdananya. Herman kemudian menetap di Amurang dengan istrinya dan seorang anaknya. Wilayah pelayanan K.T. Herman melingkupi 100 desa disekitar Amurang dengan jumlah penduduk sekitar 30.000 jiwa. Pada tanggal 17 Juli 1836 Herman mulai mendirikan sekolah. Kedatangan K.T. Herman membawa nuansa baru lewat pekabaran injilnya yang intensif di Amurang. Ia sangat rapih dan teguh dalam bekerja serta disiplin hingga dijuluki sebagai “orang yang selalu rindu pada pekerjaan”. Ia giat mengajar dan berkhotbah. Pada tanggal 27 September 1851. K.T. Herman meninggal dan dikuburkan di Amurang tepatnya di Kelurahan Ranoyapo.

GMIM Syaloo Sentrum Amurang

 

Minggu, 05 Oktober 2014

Gua Perlindungan Peninggalan PD II & Permesta - Pinapalangkow


·GUA PERLINDUNGAN PENINGGALAN PERANG DUNIA II & PERMESTA  - PINAPALANGKOW



Gua Perlindungan Peninggalan Perang Dunia II & Permesta -  Desa Pinapalangkow ( 2013 )

  

           Untuk menjangkau objek wisata sejarah ini kita harus menggunakan angkutan darat berupa mobil atau motor ojek dari pertokoan Tumpaan. Jalan berkelok-kelok melewati perkebunan penduduk dengan jarak tempuh 20 menit dari pusat Pertokoan Tumpaan. Hawa udara yang segar ditambah dengan aroma cengkeh yang harum saat dijemur penduduk di pekarangan rumah menyambut kedatangan saya bersama Tim Arkeologi Manado. 

 

              Objek wisata sejarah ini berada di belakang rumah Kel. Lengkey Tuela, Desa Pinapalangkow, Jaga 7, Kecamatan Suluun Tareran. Objek wisata ini dapat kita tempuh dalam waktu 35 menit dari pusat kota Amurang dan 1.5jam dari pusat Kota Manado. Saat berada di desa ini kami langsung disambut oleh Camat Suluun Tareran, Ibu Fien Runtuwene yang dengan ramah dan energic turut ikut bersama dengan kami melakukan penelitian.


Rumah Panggung Tua Dengan Gaya Minahasa Milik Keluarga Lengkey Tuela


           Sebuah rumah panggung tua bergaya Minahasa milik Kel. Lengkey Tuela masih berdiri kokoh. Di lantai atas rumah ini terdapat bendera merah putih yang terpajang di dinding rumah. Gua perlindungan ini berada tepat di belakang dapur rumah ini. Gua ini memiliki 2 pintu dan memiliki tinggi sekitar 1.5m dengan hawa sejuk didalamnya. Gua ini dibuat oleh penduduk setempat untuk difungsikan sebagai tempat perlindungan pada masa Perang Dunia II dan masa pergolakan Permesta. 

Di Desa Pinapalangkow ini masih ada beberapa gua-gua perlindungan yang tersebar di bukit-bukit yang berdekatan rumah penduduk. ( Krestian Gigir )

Veilbox Tumpaan


·         VEILBOX TUMPAAN






           Objek wisata sejarah ini berada di pesisir pantai Tumpaan, tepatnya di belakang pasar ikan tumpaan, Desa Tumpaan Satu, Kecamatan Tumpaan. Objek wisata ini dapat kita tempuh dalam waktu 15 menit dari pusat kota Amurang dan 1jam dari Kota Manado dengan angkutan darat. 

              Keramahan penduduk bersama Hukum Tua Desa Tumpaan Satu, Ibu Tike Dotulong, S.Sos menyambut kami bersama Tim Balai Arkeologi Manado.


        Veilbox adalah bangunan pertahanan Belanda dan Jepang yang digunakan pada masa Perang Dunia II. Veilbox ini berfungsi sebagai tempat pertahanan untuk menghalau musuh yang datang dari laut. Dulunya di samping veilbox terdapat lokraf atau parit yang ditutupi ijuk yang saling berhubungan dengan veilbox lainnya, dengan fungsi sebagai jalan para tentara/serdadu pada waktu itu.

 

                Saat ini kita masih bisa melihat 6 Veilbox yang masih terawat dan 3 lainnya sudah tertutup pasir pantai. Namun karena adanya proyek pembuatan tanggul penangkal ombak, beberapa veilbox dipindahkan sehingga sudah tidak insitu. ( Krestian Gigir,Amd.Par)

                  

Sabtu, 04 Oktober 2014

Pusat Sejarah Desa Pontak - Ranoyapo


·         PUSAT BUDAYA DESA PONTAK






     Objek wisata budaya ini berada di di samping balai desa Desa Pontak, kecamatan Ranoyapo dengan jarak tempuh 1.5jam dari pusat kota Amurang dengan angkutan darat. Di tempat ini kita bisa menemukan peninggalan megalitik berupa Lumpang Batu dan Batu Berdakon.

      Ciri khas tempat wisata budaya ini adalah terdapat sebuah pohon langsat tua yang dipercaya merupakan pohon keramat oleh penduduknya. Mitos yang masih dipercaya masyarakat setempat adalah jika ada cabang pohon yang patah, pertanda ada hal buruk akan terjadi di desa ini. Dan bagi muda mudi yang makan buah langsat dari pohon ini maka, sudah pasti jodohnya adalah berasal dari Desa Pontak. Penasaran…? Ayo kunjungi objek wisata budaya Desa Pontak.

Benteng Portugis ( 1512 ) - Amurang - Kabupaten Minahasa Selatan



BENTENG PORTUGIS ( 1512 ) AMURANG


Benteng Portugis (1512) Amurang  ( Foto 2013 )

           Objek wisata sejarah ini berada di pusat kota Amurang atau di Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang. Objek wisata ini bisa dicapai dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari Kota Manado ibukota Propinsi Sulawesi Utara, atau 1.5jam dari Sam Ratulangi International Airport Manado dengan angkutan darat. Berada di kompleks pasar Amurang sangat memudahkan para wisataman untuk menemukan objek wisata sejarah ini.


Benteng Portugis (1512) Amurang - Dipotret 2014 Oleh Krestian Gigir


         Ketika tiba di depan Benteng Portugis terliat tulisan “Benteng Amurang” dengan logo Kabupaten Minahasa Selatan dan logo Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Di bagian depan kiri Benteng terpampang tulisan “Cagar Budaya Benteng Portugis ( Amurang ), dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, dengan wilayah kerja Sulawesi Utara, Sulawesi Tenga dan Gorontalo. Selain itu terpampang juga Benteng Portugis ini dilindungi Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


Benteng Portugis Amurang - Difoto Dari Atas tahun 2011

            Benteng Portugis jika dilihat dari atas menyerupai huruf 'D" dan berdiri di atas lahan berukuran 25m x 50m dengan tinggi Benteng sekitar 4m. Dahulunya area benteng ini sangat luas, namun akibat peperangan, pembuatan jalan dalam kota, pembangunan, dan populasi penduduk menjadikan areal benteng menjadi kecil sehingga menjadi seperti skarang ini.  Di samping kiri belakang Benteng Portugis, ada tangga naik ke atas Benteng Portugis. Tangga naik ini sangat menanjak tiap anakan tangganya, disebabkan karena diseusaikan dengan tinggi badan orang-orang Eropa yang mendiami benteng ini pada waktu itu. Dahulunya cakupan benteng ini meliputi SD Amurang yang berada di depan Benteng, Gereja GMIM Syalom Sentrum Amurang, Kantor PT.Telkom Amurang. Bagian adalam (atas) benteng tertimbun abu akibat letusan Gunung Soputan di masa lampau.

 

Benteng Portugis (1512) Amurang - Foto Diambil 2014

            Sejarah objek wisata ini dimulai ketika Bangsa Portugis pertama mendarat dan membangun Benteng ini di mulut Teluk Amurang tahun 1512 atau pada awal abad ke-16, dibawah kepemimpinan armada Anthony d’Abreu. Kemudian menyusul bangsa Spanyol mendarat di perairan Mobongo / Kawangkoan Bawah, Kecamatan Amurang Barat, serta membangun benteng yang dinamai 'New Spain'. Namun benteng ini hancur akibat peperangan. Sisa-sisa Benteng Spanyol ini berada di pesisir pantai kompleks Gereja GMIM Kawangkoan Bawah. Benteng Portugis ini sebagai benteng pertahanan dan perlindungan dari perompak pada waktu itu.


Amurang Tempoe Doloe, Tampak Benteng Portugis Di Bibir Pantai


           Bahan dasar pembuatan Benteng Portugis dan Benteng Spanyol ini berasal dari batu karang yang di ambil dari pesisir Pantai Amurang yang dicampur dengan putih telur Burung Maleo yang dulunya masih banyak terdapat di wilayah Amurang dan sekitarnya. Karena adanya proyek pembuatan Benteng Portugis, maka telur Burung Maleo diperlukan dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga Burung Maleo di wilayah Amurang dan sekitarnya mengalami kepunahan.



Benteng Portugis di Amurang pada masa kolonial Belanda (VOC)

       Benteng Portugis dahulunya memiliki beberapa meriam dan salah satu sisa meriamnya berada di Lapangan Kompi Cobra C712 di Kelurahan Pondang. Sementara meriam lainnya berada di Kodim 131 Santiago Manado, dan sisanya berada di Tondano. Terpencarnya meriam-meriam ini disebabkan belum adanya Undang-Undang yang mengatur tentang perlindungan dan pelestarian benda-benda bersejarah atau cagar budaya, sehingga para pejabat yang berkuasa pada waktu itu bisa dengan mudah memindahkan barang tersebut. 


 

Tim Balai Arkeologi Manado ( Wil. Kerja Suluttenggo ) sedang melakukan penelitian meriam kuno dari Benteng Portugis Lapangan Kompi Senapan C - Kelurahan Pondang Kec.Amurang Timur - Maret 2014




        Benteng Portugis memiliki pintu masuk namun sudah ditutup puluhan tahun yang lalu. Menurut penuturan juru pelihara Benteng Portugis Bpk. Bernard Rumondor, lilin,obor, lampu petromax, bahkan lampu senter selalu akan mati jika dibawah masuk ke dalam Benteng semasa pintunya dibuka. Dahulunya di salah satu dinding Benteng Portugis terpampang peta Kota Amurang dan Minahasa, namun karena faktor alam peta ini mulai rusak dan tak terlihat lagi. 

       

Bekas pintu masuk Benteng Portugis di Amurang, tetapi sudah ditutup puluhan tahun yang lalu dan tangga naik ke bagian atas Benteng Portugis

           Banyak masyarakat sekitar benteng masih meyakini jika harta benda Bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda masih tersimpan di dalam benteng ini. Ini dibuktikan dengan ditemukan barang-barang kuno seperti uang logam kuno dan benda-benda antik Belanda saat penduduk sekitar benteng menggali lubang samapah, sumur, dll. Sebagian barang-barang peninggalan ini disimpan dan dirawat oleh sejarawan Minahasa Selatan Bpk. Cornelles Elias. Menurut Bpk. Cornelles Elias ada kuburan orang Portugis yang berada di sekitaran Benteng ini berlokasi tepat di Letter A ( Kelurahan Uwuran Satu) tepatnya di belakang Ex. Protestansch  Ziekenhuis Amoerang (Rumah Sakit Kalooran Amurang/Rumah Sakit tua, depan Bank Sulut Amurang ). Tapi sayang kuburan tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena pembangunan pemukiman penduduk.



Barang-barang antik yang ditemukan di sekitar Benteng Portugis  di Amurang

 

Tim Balai Arkeologi Manado ( Wil. Kerja Suluttenggo) sedang melakan penelitian pada barang-barang antik yang ditemukan di sekitar Benteng Portugis di Amurang

 

  

Ex. Protestansch  Ziekenhuis Amoerang dahulunya Rumah sakit tua ( Depan Bank Sulut Amurang)

 


     Benteng Portugis memiliki lorong bawah tanah yang menghubungkan Benteng Portugis dengan kapel kuno Portugis yang saat ini berada di kedalaman 1.5m terpendam di bawah lantai GMIM Syaloom Sentrum Amurang.  Hal ini terbukti pada waktu Gereja GMIM Syaloom Sentrum Amurang melakukan renovasi, dan menemukan struktur bangunan yang bahan dasarnya mirip dengan bahan dasar Benteng Potugis. Selain itu, ada beberapa lorong bawah tanah lainnya yang berakhir di dekat Sungai Ranowangko,dan ke Pantai Amurang, tetapi sayangnya pintu keluarnya sudah tertutup. 


Gereja GMIM Syalom Sentrum - Amurang ( Foto.Krestian Gigir - 2011 )

        Setelah Spanyol menduduki Benteng Portugis pada tahun 1560-1660 karena Portugis kalah perang dengan Spanyol sehinga Amurang sebagai daerah kekuasaan Portugis diserahkan kepada Spanyol, dinding-dinding beton Benteng Portugis termasuk Benteng Spanyol dibongkar pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Daendels (1807 - 1815). Dinding-dinding kedua  Benteng ini dimanfaatkan untuk pembangunan jalan di Amurang, dan pembongkaran paling akhir terjadi pada masa pemerintahan Jepang. 

        Pada sekitar abad ke-17 Benteng ini diduduki oleh Belanda atau VOC / Vereenigde Oostindische Compagnie (Kongsi Perdagangan Hindia Timur). Pada waktu pendudukan Belanda di Stad Amurang (Kota Amurang), penduduk Belanda, Borgo diperintah langsung oleh seorang Opziener Van Den Broek di tahun 1817, Kontrolir Amurang yang berperan rangkap sebagai Komandan Schutterij Detasemen Amurang.

            Pada masa kolonial Belanda penataan pemerintahan untuk Stad Amurang ini adalah para kaum Borgo dipimpin kepalanya yang disebut Wijckmeester, sementara orang Tionghoa dikepalai oleh seorang Letnan Cina. Orang Borgo yang memiliki hak-hak istimewa melebihi kaum pribumi sampai kemudian disamakan sebagai orang Minahasa di tahun 1911 bermukim di kompleks dinamai Leter yang kelak memekar menjadi Leter A (kini masuk Kelurahan Uwuran I dan Uwuran II), serta Leter B (kini Kelurahan Ranoiapo). Sedangkan perkampungan Cina (Chinatown), sekarang masuk wilayah Kelurahan Buyungon, semuanya kawasan Kecamatan Amurang.  Benteng Portugis ini perna menjadi tempat kediaman sementara oleh Pendeta-Pendeta Belanda (Nederlandsch Zendeling Genootschap) yang menyebarkan agama Kristen di Minahasa bagian selatan. ( Krestian Gigir, Amd. Par )



Dosen Pariwisata Canada Mr.Anders Arsend mengunjungi Benteng Portugis (2009) di Amurang



Duta Wisata Minsel Toar / Lumimuut Minsel 2012 Mengunjungi Benteng Portugis


Pengunjung mendapatkan penjelasan dari Jupel Benteng Portugis di Amurang


Duta Wisata Minsel ( Toar Lumimuut Minsel 2012) -  berpose di atas Benteng Portugis Amurang

 

Sejarahwan Minahasa Selatan - Bpk. Cornelles Elias

 

Benteng Portugis - Amurang ( 2011 )



Bpk. Bernard Rumondor  - Juru Pelihara (Jupel) Benteng Portugis Amurang